SIAPA ORANG YANG DISUKAI?


Aku melayangkan pandangan jauh ke laut. Kehidupan ini menawarkan banyak hal untuk di pelajari. Tidak usah repot-repot mempelajari orang lain. Waktu kita yang sudah sangat padat ini pun rasa nya bisa kurang untuk mempelajari diri sendiri. Seolah mata jauh memandang mencari tepian laut dan memicingkan mata lama.

Membicarakan orang lain sampai habis nasi lima piring pun tidak akan pernah usai. Sibuk mengkredilkan diri sendiri pun tidak akan membantu banyak. Suka atau pun tidak suka, ukuran nya akan selalu berubah. Kita bisa saja menyukai orang lain berlebihan sampai memuja-muja nya, saat ini. Tapi, seiring berjalan nya waktu, bisa saja berbalik. Menjadi tidak suka sama sekali beberapa waktu kemudian. Kalau perlu sekalian tidak menghiraukan.

Tapi pernahkah berpikir, apakah Allah menyukai kita?
Kadang kita ini terlalu Ge Er dan sibuk memberi banyak penilaian pada orang lain. Penilaian biasa saja, sampai penilaian yang rasa nya sebusuk mangga yang kulit nya menghitam.

Di kehidupan saya yang sekarang ini saya tetap belajar pada kehidupan. Bahkan saya tetap belajar untuk tetap menyukai orang yang membenci saya. Bukan karena saya kurang kerjaan. tapi saya percaya bahwa Allah tidak pernah salah mengirim orang. Sekali pun orang itu menyebalkan, kita juga harus paham bahwa orang itu tidak ingin menjadi orang yang menyebalkan pasti nya. Kadang menemui hal seperti ini pun akan menjadi warning cantik dari universe untuk memahami sisi lain kehidupan.

Sebalik nya, akan ada suatu keadaan dimana kita sudah melakukan hal baik, akan ada orang yang tidak suka pada kita. Tapi, bukan urusan kita untuk membuat orang lain menyukai kita. Asal kita sudah melakukan yang terbaik.

Asal Allah tidak membenci saya

Yang lain biar saja lewat.

Kemampuan kita untuk melihat bahwa Allah ada di mana-mana akan menguji kita habis-habisan. Per “maklum” an atas perilaku orang lain terhadap kita kadang akan mengikis habis kesabaran. Tapi semua hal itu akan lebih “menghaluskan” diri. Membuat jiwa ini bersinar lebih terang.

Apakah lebih penting menjadi orang yang disukai, tapi Allah tidak menyukai ?

 

Photo at Gili Kenawa, Sumbawa, Indonesia