SEHAT


Sudah dua minggu ini, mungkin malah lebih. Eyang putri saya ini menanyakan kapan beliau di temani ke dokter. Berkali-kali menanyakan via om. Berkali-kali menanyakan via mama dan papa. Berkali-kali om menanyakan saya via mama atau papa.

Karena jadwal saya yang padat bagaikan tumpukan selai kacang diantara roti gandum favorit saya. Dan baru malam ini saya bisa memenuhi keinginan nya. Paling tidak makan malam bersama.

Orang tua di rumah minta perhatian. Di kantor … (Saya pilih no comment). Teman grup A B C D. Kadang membalas WA saat lagi di kamar mandi.

Jangan tanya ngantuk saya. Mungkin kalau saya duduk bareng Garfield, bisa tidur bareng.

Jangan tanya juga rasa capek saya. Bohong lah kalau saya bilang tidak capek.

Jangan tanya saya kenapa ini dan kenapa itu. Karena paling paling saya hanya menatap dengan pandangan kosong. Hanya sepiring besar es krim yang bisa menjaga kewarasan saya saat ini.

Eyang saya berusia 89 tahun 8 bulan. Melihat eyang putri menikmati kare ayam kesukaan nya dan minum dawet sampai dua gelas. Saya menyadari, betapa sehat itu benar-benar menyenangkan. Entah apa saya akan demikian saat berumur sama.

Kesehatan….

Rejeki yang sering kita remehkan. Bahkan kita kerja sampai memeras lemak (karena kadar lemak saya lumayan tinggi).

Berapa diantara kita bersyukur atas kesehatan? Bisa jadi ucapan syukur kita hanya tercetus saat kita dapat uang. Kita seolah “terlupa” bahwa saat uang melimpah ruah, tapi sedang kurang sehat, apa arti nya?

Saat kita kebingungan untuk memulai bersyukur seperti apa, temuilah orang yang sedang kurang sehat. Atau pergilah ke rumah sakit. Waktu habis di jalan. Pergi keluar rumah tapi kesakitan.

Sekalipun melalui sakit kita pun bisa bersyukur, sudahkah kita mensyukuri sehat?
Kalau sehat saja kita tidak bersyukur, bisa jadi saat sakit yang ada adalah keluhan sepanjang lintas pantura.

Sehat selalu eyang …
Dan saya juga harus sehat selalu, karena banyak orang memerlukan saya